Rabu, 16 Mei 2012

Matriks Sustained Release


BAB I
PENDAHULUAN

Tujuan dasar terapi dalam pemberian obat adalah mencapai masa tunak dalam darah atau tingkat jaringan yang efektif secara terapeutik dan tidak menyebabkan efek toksik bila digunakan dalam waktu lama. Desain rejimen dosis yang tepat adalah elemen penting dalam memenuhi tujuan ini. Tujuan dasar dari desain sediaan adalah untuk mengoptimumkan pemberian obat, sehingga mencapai suatu ukuran kontrol dari efek terapi dalam menghadapi fluktuasi yang tidak tentu dalam lingkungan in vivo di mana pelepasan obat berlangsung. Hal ini biasanya dilakukan dengan memaksimumkan availabilitas obat, yaitu dengan berusaha mempertahankan suatu laju maksimum dan memperbesar absorpsi obat. Kontrol dari aksi obat melalui formulasi juga termasuk mengontrol bioavalabilitas untuk mengurangi laju absorbsi obat (Lachman, 1986). Agar obat dapat berada dalam tubuh dalam jangka waktu yang cukup lama, tanpa memberikan efek toksik, maka dibuatlah sediaan sustained release.
Konsep pemberian obat sustained released  adalah Pelepasan berkelanjutan, pelepasan terkontrol, dari  sistem pengiriman obat yang dirancang untuk mencapai efek terapi yang berkepanjangan dengan terus melepaskan obat selama jangka waktu setelah pemberian dosis tunggal, dengan efek samping yang minimal dan lebih memberikan kenyamanan terhadap pasien (Wilson, 2011). Industri farmasi menyediakan berbagai bentuk sediaan dan tingkat dosis obat tertentu, sehingga memungkinkan dokter untuk mengontrol onset dan durasi terapi obat dengan mengubah dosis dan  atau cara pemberian.
Dalam beberapa kasus, kontrol terapi obat dapat dicapai dengan mengambil keuntungan dari interaksi obat yang bermanfaat yang mempengaruhi disposisi obat dan eliminasi, misalnya dengan efek dari probenesid, yang menghambat ekskresi penisilin sehingga memperpanjang tingkat darah. Campuran dari obat mungkin digunakan untuk mempotensiasi, mensinergikan, atau mengantagonis kerja obat yang diberikan. Secara berurutan, campuran obat mungkin diformulasikan di mana laju dan atau tingkat absorpsi obat dimodifikasi.
Dokter dapat memperoleh beberapa keuntungan terapeutik yang diinginkan dengan resep bentuk sustained released. Oleh karena frekuensi pemberian obat berkurang, kepatuhan pasien dapat ditingkatkan, dan pemberian obat dapat dibuat lebih nyaman juga. Karakteristik tingkat darah osilasi  dari beberapa bentuk dosis sediaan konvensional berkurang, karena tingkat darah lebih dipertahankan. Sebuah keuntungan yang kurang jelas, selengkapnya dalam desain bentuk pelepasan berkelanjutan, adalah bahwa jumlah total obat yang diberikan dapat dikurangi, sehingga memaksimalkan ketersediaan dengan dosis minimal.
Selain itu kontrol yang lebih baik dari penyerapan obat dapat dicapai karena puncak laju darah yang tinggi dapat diamati setelah pemberian dosis dari ketersediaan obat yang tinggi dapat dikurangi dengan formulasi dalam bentuk aksi diperpanjang. Batas keamanan potensi obat yang tinggi dapat ditingkatkan, dan kejadian efek samping lokal dan sistemik yang merugikan dapat dikurangi pada pasien yang sensitif. Secara keseluruhan, pemberian bentuk sustained released memungkinkan peningkatan kemampuan terapi. Dalam mengevaluasi obat sebagai kandidat untuk formulasi sustained released, kelemahan formulasi tersebut yang harus diperhatikan sebagai berikut: 
ü  Pemberian obat sustained released  tidak mengizinkan penghentian terapi yang cepat. Perubahan dengan segera dalam obat diperlukan selama terapi, seperti mungkin dihadapi jika efek samping yang signifikan dicatat, tidak dapat diakomodasi.
ü  Dokter kurang memiliki fleksibilitas dalam menyesuaikan regimen dosis. Ini ditetapkan oleh desain bentuk sediaan. 
ü  Bentuk  sustained released yang dirancang untuk jumlah normal, yaitu atas dasar rata-rata waktu paruh biologis obat. Akibatnya, keadaan penyakit mengubah disposisi obat, variasi pasien yang signifikan, dan sebagainya  tidak diakomodasi.
ü  faktor-faktor ekonomi juga harus diperkirakan, karena proses yang lebih  mahal  dan peralatan yang terlibat dalam pembuatan berbagai bentuk sustained released.


Obat-obat dengan tujuan sustained release dapat dibuat dengan polimer-polimer yang mekanisme kerjanya yaitu dengan cara sistem difusi yang dikontrol. Polimer-polimer tersebut dapat dibuat sebagai matriks atau dalam bentuk reservoir. Pada sistem reservoir, terdapat suatu inti yang mengandung obat tertentu yang terpisah dari cairan biologis dengan adanya lapisan atau penyalutan dengan polimer yang tidak larut dalam air, dan proses pelepasan dari obat bergantung dari geometri obat tersebut. Contoh polimer yang umumnya digunakan sebagai penyalut adalah etil selulosa, polietilenvinilasetat, silikon dan kopolimer akrilat berbagai jenis. (Jones, 2004)


 



Penyalut/Lapisan Polimer Tidak Larut Air
 
Difusi Obat]




Pada sistem matriks, terdiri dari satu matriks, dan obat yang akan digunakan untuk tujuan sustained released didispersikan atau dicampurkan dengan matriks tersebut. Terdapat dua tipe dari sistem matriks yaitu sistem matrik hidrofilik dan sistem matriks yang tidak terlarut atau matriks inert. (Wilson, 2011)

Contoh Matriks yang digunakan dalam sediaan sustained release:

Karakteristik matriks
Bahan
Matriks Hidrofobik
Polietilen, polivinil klorida (PVC), Kopolimer metil akrilat-metakrilat, etilselulosa
Matriks Lemak
Lemak karnauba
-          Stearil alkohol, as.stearat, PEG
Lemak kastor
-          PEG monostearat
Trigliserida
Hidrofilik
Metilselulosa, hidroksietilselulosa (HEC), hidrokspropilmetilselulosa (HPMC), hidroksipropilselulosa (HPC), natrium karboksimetilselulosa (Na CMC), Na alginat, karboksipolimetilen, Asam Hyaluronat, Karagenan, Karbomer


BAB II
MATRIKS SEDIAAN SUSTAINED RELEASE

Sistem matriks merupakan sistem yang paling sederhana dan sering digunakan dalam pembuatan tablet lepas lambat. Matriks obat didefinisikan sebagai dispersi seragam obat secara homogen di dalam pembawa dan formulasi dikembangkan untuk mengontrol secara efektif kecepatan ketersediaan obat di mana pelepasan obat tergantung bahan polimer. Pada sistem matriks, pelepasan obat difasilitasi oleh disolusi yang bertahap dari matriks dan dikontrol oleh karakteristik kelarutan dan porositas matriks (Encyclopedia of Pharmaceutical Technology, vol 4, halaman 305).
Mekanisme pelepasan obat secara sistem matriks terjadi secara difusi dan disolusi. Pada proses difusi, umumnya terjadi tanpa melalui proses pengembangan dan erosi dari matriks, jadi obat keluar dengan cara migrasi dari zat aktif yang bergantung dari sifat dari obat tersebut. Sedangkan, pada mekanisme secara disolusi, matrik mengalami proses pelarutan atau terlarut dalam medium atau terjadi proses erosi, yang diikuti pelarutan zat aktif sehingga zat aktif dapat terlepas atau keluar dari pembawa. Pada sistem matriks dibedakan menjadi dua tipe pelepasan, yaitu untuk sistem matriks hidrofilik dan sistem matrik tidak larut atau inert.


Pada sistem matriks hidrofilik, partikel obat terdispersi atau terlarut dalam polimer yang larut air, dan pelepasan obat terjadi dengan terbentuknya gel, terjadi pengembangan matriks dan obat terlarut. Sedangkan pada sistem matriks inert, obat terdapat dalam polimer yang tidak larut dalam larutan gastrointestinal. Proses pelepasan obat terjadi dengan penetrasi cairan ke dalam polimer melalui pori-pori atau agen pembasah dalam matriks yang berfungsi meningkatkan permeasi cairan, sehingga terjadi prose disolusi dan difusi dari obat. (Wilson, 2011)
Matriks yang digunakan untuk sediaan sustained release umumnya adalah polimer-polimer. Polimer ini terbagi menjadi menjadi beberapa klasifikasi, diantaranya:
a.     Polimer berdasarkan asalnya
·                     Polimer alam, contoh : xanthan gum, alginat, karagenan
·      Polimer semi sintetik, contoh : metil selulosa, Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC), Hidroksi Propil Selulosa (HPC)
·                     Polimer sintetik, contoh : karbomer, polietilen glikol
b.     Polimer berdasarkan sifatnya
·      Polimer hidrofilik, contoh : metil selulosa, Natrium Karboksi Metil Selulosa (Na CMC), Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC)
·       Polimer hidrofobik, contoh : Polietilen, polivinil klorida (PVC), Kopolimer metil akrilat-metakrilat, etilselulosa
·                     Polimer ampifilik, contoh : polietilen glikol
c.      Polimer berdasarkan muatannya
·                    Polimer anionik, contoh : Natrium Karboksi Metil Selulosa (Na CMC)
·                    Polimer kationik, contoh : kitosan
·      Polimer nonionik, contoh : metil selulosa, Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC), Hidroksi Propil Selulosa (HPC), polietilen glikol
d.     Polimer berdasarkan sifat degradasinya
·      Polimer terdegradasi, contoh : metil selulosa, Natrium Karboksi Metil Selulosa, karagenan, Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC), Hidroksi Propil Selulosa (HPC), polietilen glikol
·      Polimer tidak terdegradasi, contoh : carnauba wax, bees wax, stearil alcohol.

2.1         Metil Selulosa
Metil selulosa merupakan polimer semi sintetik, bersifat hidrofilik, non ionik dan biodegradabel.

·         Nama kimia :
Cellulose methyl ether

·         Struktur :

    
     BM : 10000 - 220000

·         Kelarutan :
Praktis tidak larut dalam aseton, metanol, kloroform, etanol (95%), eter, toluen, dan air panas. Larut dalam asam asetat glasial dan dalam campuran volume yang sama dari etanol dan kloroform. Dalam air dingin, metil selulosa mengembang dan terdispersi dengan lambat menjadi bentuk bening sampai seperti opal, melekat, dispersi koloid.

·         Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik :
Metil selulosa secara luas digunakan pada sediaan oral dan topikal formulasi farmasetika. Metil selulosa dapat ditambahkan pada formulasi tablet untuk menghasilkan preparasi sustained release.          Inti tablet mungkin juga dilapisi dengan cara penyemprotan dengan salah satu cairan atau larutan organik pengganti tingkat viskositas yang rendah dari metil selulosa untuk menutupi rasa tidak enak atau modifikasi pelepasan obat dengan mengontrol sifat fisik dari granul. Lapisan metil selulosa juga digunakan untuk menutup inti tablet lebih dulu dengan melapisi gula.

·         Konsentrasi Penggunaan
Konsentrasi yang digunakan untuk sustained-release tablet matriks adalah 5.0-75.0 %.

·         Mekanisme sustained released
Metil selulosa merupakan turunan selulosa yang tersubstitusi hidroksipropil dan metil. Metil selulosa merupakan bahan matriks hidrofil yang dapat mengendalikan pelepasan kandungan obat di dalamnya ke dalam medium pelarut. Metil selulosa dapat membentuk lapisan hidrogel dengan viskositas tinggi pada sekeliling sediaan setelah kontak dengan cairan medium pelarut. Gel ini merupakan penghalang fisik lepasnya obat dari matriks secara cepat.

2.2         Natrium Karboksi Metil Selulosa
Natrium karboksi metil selulosa merupakan salah satu polimer yang dapat digunakan untuk sediaan dengan tujuan sustained release. Natrium karboksi metil selulosa merupakan polimer semi sintetik, yang bersifat anionik, hidrofilik dan merupakan polimer biodegradable, yang dibuat dengan cara mereaksikan selulosa dengan natrium monokloroasetat.

      Nama kimia
Cellulose, carboxymethyl ether, sodium salt.







    Rumus Struktur


     

BM : 90000 - 700000
      Kelarutan
Praktis tidak larut dalam aseton, etanol (95%), eter dan toluene. Merupakan polimer semi sintetik yang mudah terdispersi dalam air pada semua temperatur membentuk larutan koloid yang jernih.

      Aplikasi dalam formulasi farmasetik
Matriks sustained release, coating tablet, serta dapat juga digunakan sebagai agen penstabil, suspending agent, disintegran tablet atau kapsul, pengikat pada tablet, peningkat viskositas, water-absorbing agent.

      Mekanisme sebagai sustained release
       Secara umum, natrium karboksi metil selulosa stabil pada pH larutan 7-9 dan menunjukkan viskositas yang maksimum. Namun, sebagai matriks sustained release pH yang menunjukkan kemampuan sebagai matriks yang dapat mengembang adalah pada pH 4,5 dan 6,8. Pada pH tersebut terbentuk rantai makromolekular dalam gel yang terdiri dari ikatan yang lemah sehingga pelepasan obat dapat terjadi dengan cara erosi dari matriks natrium karboksi metil selulosa. Sedangkan pada pH 1, akan terbentuk gel yang kaku, sehingga memiliki tipe seperti hidrogel ikatan silang yang menghasilkan pelepasan obat secara difusi.

2.3         Hidroksi Propil Metil Selulosa
Hidroksi propil metil selulosa sangat luas digunakan dalam aplikasi sebagai matriks sustained release. Hidroksi propil metil selulosa merupakan polimer semi sintetik yang bersifat hidrofilik, non ionik dan merupakan polimer biodegradable. Secara komersial, hidroksi propil metil selulosa terdiri dari empat tingkatan yaitu A, E, F, dan K yang memiliki perbedaan dalam subtitusi gugus hidroksipropoksil dan metoksi.

·           Nama Kimia
Cellulose, Hydroxypropil methyl ether
·          
n
 
Struktur Kimia
BM = 10000 - 1500000

·           Kelarutan
Larut dalam air dingin, praktis tidak larut dalam kloroform, etanol (95%) dan eter; namun larut dalam campuran etanol dan klorometana, campuran metanol dan diklorometana, dan campuran air dan alkohol. Larut dalam larutan aseton encer, campuran diklorometana dan propan-2-ol, dan pelarut organik lain.

·           Karakteristik
HPMC merupakan polimer hidrofilik, dimana ketika terjadi kontak dengan air atau cairan GIT maka akan terjadi hidrasi dan peregangan rantai sehingga dapat membentuk lapisan gel kental. Pelepasan obat dapat terjadi melalui difusi dan atau erosi dari matriks. Semakin meningkatnya konsentrasi HPMC maka akan meningkatkan kekuatan gel polimer yang terbentuk. HPMC merupakan polimer biodegradable (biodegradasi) yang dapat terdegradasi oleh enzim sellulose. Berdasarkan sifat strukturalnya, telah diamati bahwa kecepatan biodegradasi pada HPMC dipengaruhi oleh derajat subtitusinya. Biodegradasi dari HPMC dengan derajat subtitusi tinggi relatif lebih lambat daripada HPMC dengan derajat subtitusi yang lebih rendah.


·           Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik
HPMC secara luas digunakan dalam formulasi farmasetik sediaan oral dan topikal. Dalam sediaan oral, HPMC terutama digunakan sebagai bahan matriks sustained release.  Tingkat viskositas yang tinggi dapat digunakan untuk memperlambat pelepasan obat yang mudah larut air dari matriks. Serta dapat juga digunakan sebagai pengikat baik secara granulasi basah maupun kering dan sebagai penyalut.

·           Konsentrasi penggunaan
Sebagai matriks sustained release konsentrasi yang digunakan adalah pada tingkat viskositas yang tinggi yaitu 10-80% b/b dalam sediaan tablet atau kapsul.

·           Mekanisme sebagai sustained release
Seperti telah disebutkan di atas bahwa hidroksi propil metil selulosa merupakan campuran dari alkil hidroksialkil selulosa eter yang terdiri dari gugus metoksi dan hidroksipropil. Substitusi dari gugus-gugus tersebutlah yang menyebabkan perbedaan sifat fisika kimia seperti kecepatan dan lamanya proses hidrasi, biodegradasi, aktivitas permukaan dan sifat kekenyalannya.
Bahan obat  dan bahan tambahan lainnya secara kesatuan diikat dengan polimer hidrofilik (contoh HPMC) dan kemudian dicetak menjadi bentuk sediaan. Selama proses pencernaan, cairan gastrointestinal berpenetrasi ke dalam tablet dan matriks HPMC hidrofilik hidrat, yang menyebabkan terjadinya hidrasi dan peregangan rantai sehingga matriks tersebut dapat mengembang dan berubah bentuk seperti lapisan gel kental. Lapisan gel tersebut akan mengontrol proses difusi air ke dalam sistem dan proses difusi obat keluar dari sistem. Pada periode yang lama, lapisan tersebut akan pecah dan larut sehingga air dapat berpenetrasi lebih dalam ke dalam matriks, berubah manjadi lapisan gel yang baru. Proses ini berlangsung terus-menerus hingga seluruh matriks hidrofilik larut. Matriks bentuk gel ini secara efektif dapat menjerat bahan aktif dan memperlambat pelepasannya, yang dapat terjadi dengan proses difusi melalui lapisan gel dan atau erosi matriks gel itu sendiri.

2.4         Hidroksi Propil Selulosa
Hidroksi propil selulosa merupakan polimer semi sintetis, bersifat hidrofilik, non ionik dan biodegradable. Hidroksi propil selulosa merupakan eter dari selulosa yang terdiri dari gugus hidroksi yang dihidroksipropilasi.

o    Nama kimia
Cellulose, 2-hydroxypropyl ether



o    Rumus Struktur
BM : 50000-1250000

o    Kelarutan
Praktis tidak larut dalam etanol 95% dan eter. Larut dalam larutan NaOH (1 dalam 10) dan menghasilkan larutan encer. Dalam air tidak larut, melainkan mengembang.

o    Aplikasi dalam formulasi farmasetik
Hidroksi propil selulosa luas digunakan sebagai matriks sediaan sustained release dan juga dapat digunakan sebagai coating agent, emulsifying agent, stabilizing agent, suspending agent, pengikat (binder) pada tablet, thickening agent, viscosity-increasing agent.

o    Konsentrasi penggunaan
Sebagai matriks sustained release digunakan konsentrasi antara 15-35 % b/b. Tingkat pelepasan dari obat bertambah seiring dengan berkurangnya viskositas dari Hidroksi propil selulosa. Penambahan surfaktan anionik akan meningkatkan viskositas dari hidroksi propil selulosa dan akhirnya akan mengurangi kecepatan pelepasan obat.



o    Mekanisme sustained release
Hidroksi propil selulosa merupakan polimer hidrofilik dimana saat mengalami kontak dengan cairan GIT atau air, maka akan terjadi hidrasi dan peregangan rantai sehingga matriks akan mengalami proses pengembangan (swelling) dan akan membentuk lapisan seperti gel. Pada Hidroksi propil selulosa, pelepasan obat dari matriks dikontrol oleh proses difusi melalui pori-pori dan saluran dalam struktur. Kecepatan pelepasan obat dari Hidroksi propil selulosa dapat dipengaruhi oleh viskositas dan pH medium. Dimana, kecepatan pelepasan obat akan meningkat dengan menurunnya viskositas dan pH medium. Hal ini dikarenakan, semakin tinggi viskositasnya maka akan membentuk barrier yang kuat sehingga laju pelepasan obat melambat.  Hidroksi propil selulosa merupakan polimer yang dapat terdegradasi secara enzimatis oleh enzim sellulose.

2.5         Karbomer
Karbomer adalah polimer asam akrilat bermolekul tinggi, yang dibuat ikatan silang dengan alil sukrosa atau alil eter dari pentaeritritol. Karbomer merupakan polimer sintetik, bersifat hidrofilik dan anionik. Karbomer mengandung asam karboksilat antara 56% hingga 68% pada keadaan kering. Berat molekulnya secara teoritis diperkirakan sekitar 7 x 105  hingga 4 x 109.

·           Rumus Struktur


 






·           Kelarutan
       Mengembang dalam air dan gliserin dan dalam etanol 95%. Karbomer tidak terlarut, namun dapat mengembang sehingga memperpanjang pelepasan.

·           Aplikasi dalam Formulasi Farmasetik:
Karbomer dapat digunakan sebagai matriks sustained release. Resin karbomer diketahui ada dalam sediaan sustained-release, yaitu di dalam rangkaian matrix sebagai inhibitor enzim protease di dalam usus (pada sediaan yang mengandung peptida).
Selain itu karbomer juga dapat digunakan sebagai bioadhesive (pada sediaaan untuk serviks dan untuk pemberian mikrosfer intranasal), untuk penyampaian obat spesifik pada esofagus, dan sebagai mucoadhesive untuk pemberian oral dalam sediaan obat spesifik. 

·           Mekanisme sebagai Sustained Release
     Karbomer merupakan polimer tidak larut dalam air, namun dapat mengembang dan membentuk gel. Namun, pembentukan gel dan proses mengembangnya berbeda dengan polimer hidrofilik lainnya, pada polimer asam akrilat, pembentukan permukaan gel adalah tidak terjadi pemisahan rantai polimer (polimer sudah terjadi ikatan silang) tetapi terbentuk mikrogel yang mengandung banyak partikel-partikel polimer.  
     Ikatan silang memungkinkan obat terjebak  dalam hidrogel. Karena hidrogel tidak larut dalam air, obat tidak terlarut, dan erosi pada polimer linier ini tidak terjadi. Sebaliknya, ketika hidrogel terhidrasi sepenuhnya, tekanan osmotik dari dalam bekerja untuk memecah struktur, sehingga terbentuk pecahan-pecahan dari hidrogel. Kemudian dilanjutkan dengan terjadinya difusi pada lapisan gel. Bentuk ikatan silang dari polimer dengan viskositas rendah umumnya lebih efisien sebagai pelepasan sediaan terkontrol dibandingakan dengan ikatan silang dengan variasi yang besar.
    
·           Metode Pembuatan
Karbomer diproduksi di dalam campuran kosolven dengan sebuah zat yang dapat membantu polimerisasi dan resin diikat secara “crosslinked” dengan polyalkenyl polyether. Polimer Carbopol dibuat dengan proses cross-linking. Tergantung pada derajat cross-linking dan kondisi pembuatan, sehingga terdapat berbagai kelas Carbopol.  Carbopol 934 P dibuat melalui cross-linked dengan alil sukrosa dan dipolimerisasi dalam pelarut benzena. Carbopol 71G, 971 P, 974 P dibuat melalui cross-linked dengan alil penta erythritol dan dipolimerisasi dalam etil asetat.

2.6      Etilselulosa
            Etil selulosa merupakan polimer semi sintetis, bersifat hidrofobik, non ionik dan biodegradable. Etil selulosa dibuat melalui proses etilasi dengan mereaksikan alkali selulosa dengan etil klorida.

o    Nama Kimia
Cellulose ethyl ether

o    Struktur

o    Kelarutan
Larut dalam air dingin, praktis tidak larut dalam kloroform, etanol (95%) dan eter; namun larut dalam campuran etanol dan iklorometana, campuran metanol dan diklorometana, dan campuran air dan alkohol. Larut dalam larutan aseton encer, campuran diklorometana dan propan-2-ol, dan pelarut organik lain.

o    Aplikasi dalam sediaan farmasi
Digunakan dalam sediaan formulasi oral dan topical. Penyalutan dengan ethylcellulose digunakan untuk modifikasi pelepasan obat sustained release. Etilselulosa dengan viskositas tinggi digunakan dalam obat mikroenkapsulasi.

o    Mekanisme sebagai sustained release
Dalam saluran cerna akan terbentuk lapisan etilselulosa yang terhidrasi, yang akan mengontrol difusi air selanjutnya ke dalam metriks. Difusi obat melalui lapisan matriks yang terhidrasi akan mngontrol kecepatan pelepasan obat. Lapisan matrils terhidrasi akan mengalami erosi sehingga menjadi terlarut.

o    Konsentrasi Penggunaan
Konsentrasi yang digunakan dalam tablet salut sustained release adalah 3-20%.



BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Sustained release yaitu sediaan yang dirancang untuk memberikan aktivitas terapetik diperlama dengan cara pelepasan obat secara terus-menerus selama periode tertentu dalam sekali pemberian. Matriks berfungsi untuk menahan obat agar tidak terdegradasi di tempat yang bukan menjadi sasaran dari obat tersebut.
Penggolongan dari matriks berdasarkan bagaimana sifat dari matriks tersebut,cara pelepasannya dari obat. Penggolongan matriks yaitu matriks hidrofilik, matiks hidrofobik, dan matriks lemak. 
3.2. Saran
Pemilihan jenis matriks yang akan digunakan pada formulasi sediaan sustained release harus diperhatikan terutama sifat atau karakteristik matrks tersebut, bagaimana mekanisme kerja matriks agar efek terapi yang kita harapkan dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Jones, D. 2004. Pharmaceutical Application of polymers for Drug Delivery Vol. 15. Rapra.
Lachman, Leon, et all. 1986. The Theory Practice of Industrial Pharmacy. Philadelphia : LEA & FEBIGER.
Ranade, Vasant, et al. 2002. Drug Delivery Systems 2nd edition. London: CRC Press.
Rowe, Raymond c, et al,.2009. Handbook of pharmaceutical excipients 6th ed. USA: Pharmaceutical Press.
Swarbick, james, et al. 1991. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology Vol 4. New York: Marcel Dekker Inc.
Wilson. Clive G. 2011. Controlled Release in Oral Drug Delivery. Springer : London.
http://www.scribd.com/doc/54929416/6/II-1-Definisi-Sustained-Release.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar